Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI) telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam sektor kesehatan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Chalmers University of Technology, University of Gothenburg, dan University of BorĂ¥s menyoroti bagaimana kecerdasan buatan dapat menjadi rekan kerja tambahan yang efektif bagi paramedis, meningkatkan kemampuan mereka untuk membuat keputusan cepat dan penting yang pada akhirnya dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa.
Cara Kerja AI Meningkatkan Efisiensi Ambulans
Menurut Anna Bakidou, penulis utama penelitian tersebut, mengangkut pasien langsung ke rumah sakit universitas dapat meningkatkan peluang bertahan hidup, terutama ketika sumber daya untuk merawat semua jenis cedera tersedia. Dengan adanya AI, paramedis dapat lebih baik menilai tingkat keparahan cedera dan memberikan perawatan yang tepat, memastikan bahwa sumber daya yang ada digunakan dengan efisien.
Tim peneliti menciptakan lima model matematika berbeda setelah menganalisis data dari Swedish Trauma Registry antara tahun 2013 dan 2020. Hasilnya menunjukkan bahwa model AI mampu membuat keputusan lebih cepat dan akurat dalam situasi kesehatan kritis dibandingkan dengan pekerja ambulans. Dalam beberapa kasus, 40% orang yang mengalami cedera serius tidak langsung dibawa ke rumah sakit, dan AI dapat memainkan peran kunci dalam mengidentifikasi kasus-kasus ini dan memberikan rekomendasi segera.
Menurut Bakidou, personel ambulans sering dihadapkan pada keputusan sulit dan cepat, dan harapannya adalah bahwa sistem pendukung keputusan AI dapat berfungsi sebagai ‘kolega tambahan.’ Sistem ini membantu staf melihat hubungan yang lebih kompleks dan mempertimbangkan secara lebih seksama kasus-kasus di mana cedera sulit dirasakan atau dinilai.
Studi ini juga menyoroti pentingnya penggunaan AI dalam menilai cedera anak-anak, remaja, dan lansia yang terlibat dalam kecelakaan. Anak-anak dan remaja seringkali mengalami cedera yang lebih parah daripada yang terlihat, sementara lansia yang jatuh dapat mengalami cedera yang serius meskipun terlihat ringan. Dengan bantuan AI, protokol penilaian dan perawatan dapat diperbarui secara lebih efektif.
Anna Bakidou menekankan perlunya uji klinis skala besar sebelum layanan AI ini dapat diluncurkan secara luas untuk mendukung paramedis. Penggabungan kecerdasan buatan dengan rutinitas dan protokol yang ada harus diselaraskan dengan baik, dan saran kepada staf perlu diperbarui secara berkala sesuai dengan penambahan data baru.
Melalui penelitian ini, harapannya adalah bahwa kecerdasan buatan dapat menjadi alat yang berharga dalam perawatan ambulans, membantu paramedis membuat keputusan yang lebih baik dan menyelamatkan lebih banyak nyawa. Dengan pendekatan ini, diharapkan pelayanan ambulans dapat menjadi lebih efisien dan memberikan perawatan yang lebih setara kepada semua pasien.


